Wednesday, July 8, 2015

Tidak guna pemimpin berubah jika rakyat terus susah

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w.

Renungan

"Wafatkanlah aku dan keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh." (Maksud Ayat 101 Surah Yusuf)

'PAKATAN harapan rakyat' - demikian sebegitu banyak ucapan dan tulisan di mana-mana termasuk dalam dunia siber tetapi akhir-akhir ini harapan rakyat bagi 'membenamkan' Umno-BN yang terlalu rakus berkuasa sedikit sebanyak terjejas berikutan perkembangan terbaru dalam Pakatan Rakyat.

Dalam kesinambungan tamadun manusia malah kehidupan manusia sendiri dua komponen pihak iaitu pemimpin dan orang dipimpin (rakyat) perlu wujud (ada). Jika tiada rakyat, tiadalah pemimpin, jika ada rakyat pasti ada pemimpinnya. Peri pentingnya hubungan pemimpin dan rakyat dapat dilihat daripada kata-kata mutiara seperti 'raja dan rakyat tiada terpisah jua', 'baik pemimpin baiklah rakyat' dan 'raja adil raja 'disembah'; raja zalim raja disanggah'.

Demokrasi juga memelihara hubungan pemimpin-rakyat. Rakyat memilih pemimpin, maka timbullah slogan seperti 'daripada rakyat untuk rakyat' dan 'daripada rakyat kepada rakyat'. Di sini jelas sekali kepentingan rakyat...dan berhubung perkara ini saya sangat tertarik dengan kata-kata bernas yang kerap diungkapkan oleh seorang pemimpin Pakatan Rakyat (usahlah namanya dinyatakan)..."tidak guna pemimpin (pemerintah) berubah jika rakyat terus susah."

Antara lain beliau mengungkap bahawa; "kita bukan bermatlamat menukar pemimpin...ya buat apa tukar pemimpin jika pemimpin baru itu sama seperti pemimpin lama yang terus menyusahkan rakyat." 

Ya, dalam konteks rakyat, apa yang menjadi keutamaan mereka? Tentunya kehendak kebanyakannya menepati pandangan ahli ekonomi (malah kehidupan) bahawa mereka mahu memenuhi keperluan asas manusia itu soal makan-minum, pakaian dan tempat tinggal. Namun ada yang meletakkan 'persoalan ketuhanan' di kedudukan tertinggi kerana makanan, pakaian dan tempat tinggal perlu diperolehi secara 'telus' (halal). Selepas itu barulah manusia bergerak ke depan dengan memikirkan mengenai soal kekeluargaan, hubungan sesama manusia (berkerajaan dan bermuamalat), pendidikan, keadilan dan sebagainya.

Demikianlah, wahai pemimpin buat permulaan jagalah persoalan makan minum, pakaian dan tempat tinggal (rumah) rakyat. Dan bagi pemerintah yang gagal 'berlaku adil' dalam hal ini seperti menekan rakyat dengan mengenakan cukai tinggi sebaliknya mereka melakukan pemborosan dan aneka penyelewengan, maka sewajar mereka diganti. Namun amat malang jika pemerintah baru 'berperangai sama' yang mengakibatkan kehidupan rakyat semakin susah - jadi apa ertinya jika pemimpin sudah bertukar tetapi rakyat tetap susah. 

Hal yang sama juga boleh dikatakan mengenai keadilan; apa guna pemimpin sudah bertukar tetapi rakyat dizalimi dan tidak mendapat keadilan seperti ada 'set undang-undang berbeza untuk golongan atasan dan rakyat marhain'. Perkara inilah yang ditentang oleh Nabi Muhammad s.a.w. yang dalam salah satu hadisnya ada menyatakan, "jika Fatimah (anak baginda sendiri) yang mencuri akan kupotong tangannya..."

Membicarakan soal pemimpin berubah rakyat tetap susah ini, kita cukup tertarik dengan kritikan tajam pelbagai pihak di Indonesia termasuk media massanya apabila Joko Widowo (Jokowi)- Jusuf Kalla (JK) mengambil alih kuasa daripada pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Boediono tahun lalu.

Selepas Jokowi-JK berada di puncak kuasa, media massa dengan keras mengingatkan pemimpin bahawa tidak guna pemerintah saja berubah tetapi nasib rakyat tetap sama - tidak berubah, miskin di dalam sebuah negara yang mewah sumber alamnya.  Mereka berkata, kebanyakan pemimpin tetap sama, belum dapat kuasa banyaklah janji dan pameran kebaikannya tetapi selepas itu janji tinggal janji..."

Akhbar 'Pikiran Rakyat' tanggal 23 Oktober 2014, misalnya, dalam sebuah artikel utamanya mengingatkan: "Para pemimpin yang baru terpilih...jangan hanya 'bisa' membuat program kerja baru, tapi 'bisa' melaksanakannya." Rakyat sudah muak dengan janji-janji, mereka mahu menikmati hasil daripada program dan projek kerajaan tetapi hal itu tidak berlaku - kehidupan mereka masih sama seperti dulu sekalipun pemimpin sudah acap kali berubah.

Kini selepas hampir setahun Jokowi-JK berkuasa - apa rakyat kebanyakan sudah dapat daripada pertukaran pemimpin ini? Ya, kebanyakannya terus susah dengan harga minyak terus naik begitu juga dengan tarif listrik (elektrik).

Ada satu lawak di Indonesia, bahawa harga minyak, barangan dan tarif tidak dinaikkan; perkataan yang mereka gunakan adalah 'harganya berubah'. Ini mungkin menyamai tindakan pihak berkuasa Malaysia yang menggunakan istilah 'rasionalisasi subsidi' bagi mengabui mata rakyat. 

Ya kebanyakan pemimpin sama saja (kecuali segelintir), tidak kira di Indonesia atau Malaysia malah di serata dunia, belum dapat kuasa banyak saja janjinya, sudah berkuasa habuk pun tak ada!

Monday, July 6, 2015

'Who would be the next 'allahyarham'?'


***
In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful; blessings and peace be upon Prophet Muhammad s.a.w.

Reflection

The Declining Day (Al-'Asr)
1. By the declining day,
2. Lo! Man is in a state of loss,
3. Save those who believe and do good works, and exhort 
one another to truth and exhort one another to endurance.
***

TIME flies very fast; by the time readers are reading this article a week had past since we started 'puasa' (fasting) in the holy month of Ramadan. Recently an old mate posted in our e-group a list of our batch in secondary school some 40 years ago and what impressed me he managed to tick names of friends who had passed away - eight out of about 120 mates - had been called by Allah SWT.

My friends and I are now 53 - it meant that the friends who were called by the Lord were very young - many of us are now climbing the ladder to top positions in public and corporate sectors. Almost all of us graduated with first degrees at the age of 23, and now with some 30 years of experience working and some having masters and PhD degrees, many of us are holding key posts in various working identities.

Three years ago when my school batch were celebrating 'our half a century (50 years) existence on earth'  in a comeback gathering, I distributed photocopies of my writing which appeared in the English Section of Harakah entitled ' Our critical last 10 years'. 

In the article, among others I mentioned that if were to follow 'Sunnah' (follow the life span of Prophet Muhammad s.a.w. who died at 63) we have about 13 years 'to check ourselves' before we would be called by the Lord. Now, three years had passed, our existence in this world is getting shorter and shorter by each day.

I remember writing: "Time is running short. Our batch (class of Form Five 1979) who turned 50 this year would only have a balance of 13 years to do our best in life including the most important - our preparation for life in the Hereafter which is forever.

"Beloved friends, if our past 50 years were wasted that easy, imagine how are going to benefit the last 13 years left? Yes, how are we going to use that short span of time to save ourselves from Hellfire. If we were to think hard (I mean moving in the straight path), then we would panic and tremble, the time left is so short yet we have drifted too far to catch back the time that was lost when we filled it with aimless activities what’s more with ‘haram’ (forbidden) ones. 

"At 50, are we still after those worldly pleasures; for example if we have already owned a bangalow, are we all out to renovate it into an ‘istana’? Or are we chasing after a Lamborghini after having being blessed with a fleet of five cars including a Mercedes, a Bugati and Ferrari? 

"Or are we still chasing after women (girls to be exact) to make them Mrs. No 2, 3 or 4? Or are we madly working to make our money (or to be exact RM figures) in our bank accounts with more 0 digits behind; for example if we were having RM100,000; would we like to add another one 0 to make it RM1,000,000 (one million ringgit) or three 0s to make it RM100,000,000 (one hundred million ringgit). Wow, that’s a lot of money!

"Ooh friends, remember at 50, we have finished using 5/6 of our lives. We have another 1/6 of it to go with; so dear brothers, enough is enough, with the balance of about 10 years, please make the best of it to work hard so that we would not be dumped into the furthest part of hell. Allah SWT says in the Quran: “O! You who believe, save yourself and your families from Hell-fire, whose fuel are humans and stones (idols)…” (At-Tahrim 66: 6) 

"If we were to enter a race of 600 meters and we have only another 100 meters to pass the finishing line, would we still be dazzling away with all that worldly wonders that would be of no help to us in the Hereafter or are we putting all our energy and resources to reach the finishing line? 

"Scholars have reminded us again and again that RM, dollars, pounds, rupees and yen would of no use in the Hereafter. The much sought items there were ‘iman’ (faith) and good deeds; unfortunately the Hereafter is not a place to do good deeds but a place to reaped ‘our best crop’ grown on earth!"

Well dear readers, 'alhamdulillah' (all praise to Allah) we are blessed again to observe Ramadan; it is timely for us to do some reflections - we do not know if this is our last Ramadan - as in 'my batch schoolmates case' - eight of them had been called by Allah SWT.

An hour before writing this article, I heard an 'ustaz' (religious teacher) had beautifully explained the above situation - living in this world is like us lining in a row to have our throat being slaughtered, just like chickens in a slaughter house where they were put into a cage and then picked up one after another to be slaughtered. Sorry if this harsh word offended some readers and to my dear old school mates, I was sacred scared and my heart trembled upon writing this sentence - 'who wound be No 9?'...'who would the next 'allahyarham' (the late?).

'Ya Allah' (O Allah), I am very very afraid. I am not ready for death. The problem is whether we are ready or not, death is inevitable. It would surely 'knock our doors', only time would tell. Death would be upon us whether are afraid or not afraid of it - one sure thing every living things would come to end one day!

To readers especially friends (I included) who are still 'chasing worldly pleasures like mad' and forgetting our future in the Hereafter, please stop it because who knows 'we are the next chicken in the cage to be picked up and then been slaughtered' (die-lah).

After death, nothing could help us - only our 'iman' and 'amal' would determine our being in the Hereafter and the saddest part of it there is no way to be back on earth 'to do corrections' for example to repent and do good deeds. There is no point to regret because death and beyond is a one way ticket journey - everything we left on earth would of no use except for there - that are our 'sadaqah jariah' (long term charity such as building a masjid), the good knowledge that we impart and pious children who would 'du'a' (do supplication) for us.

Why must we be crazy for 'worldly pleasures' because 'they are only temporary satisfactions'. Scholars have reminded us that our priorities in life keep on changing as the years pass; for example when we are young, many of us were are after wealth and a sound and peaceful married life, then as we grow older we realize that it is health, then it is love (bondness among families members) and then when we lay on our death bed, only then we realize that we long for good deeds done. 

At this critical moment only do we realize that our ‘amal’ are not enough to take us to the Hereafter; but it is already too late. The son of man grows and with him grows two things – the love of wealth and love of long life. But what about good deeds? 

If we knew that we need to gather lots of good deeds in this world for ‘stock’ in the Hereafter where RM, dollars and pounds were useless, we would be after them when we were still young; unfortunately many of us realize it when death is upon us. 

The Holy Prophet s.a.w. warned us when he said: “On the day of Judgment, one will not be able to move away before Allah until he has accounted for his life, how it was spent; on knowledge, to what use it was put; regarding wealth, how it was acquired and spent; and on body, how it is utilized? 

All things related to this world would not satisfy human beings, for example regarding richness (wealth) the Holy Prophet said: “Even if there were for a man two valleys full of wealth he would aspire for a third one, and nothing would fill man’s belly but dust, and Allah turns him who turns to Allah. 

So, it is timely during this Ramadan to remind myself, friends and readers that our priority in life should be expanding our stock of ‘amal’ before our ‘Big Day’ (death) catches up on us. Don’t gamble with our lives, thinking that death is still far away from us; who knows this Ramadan would be our last!

As for this Ramadan, pray and work hard to please Allah; we should 'be greedy' to stock up our 'pahala' (good rewards). In our 'greediness' for 'pahala', please hope and hope and 'du'a' that we would get Lailatulqadar (Night of Power) this Ramadan. 

In Surah Al-Qadr, Allah SWT says: “Lo! We revealed it on the Night of Power; Ah, what will convey unto thee what the Night of Power is!; The Night of Power is better than a thousand months; The angels and Spirit (Jibril, Gabriel) descend therein, by permissions of their Lord, with all decrees; (That night is) Peace until the rising of the dawn.” 

When one performs his obligations and good deeds during ‘Lailatulqadar’, then he/she would be rewarded for his/her deeds for that night better than a thousand months (1 night = 83 years 4 months!). 

Friday, July 3, 2015

Dari UKM ke Harakah (22): Ujian Ramadan dedah siapa sebenar diri kita...

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w.

Renungan

"Wafatkanlah aku dan keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh." (Maksud Ayat 101 Surah Yusuf)

MENURUT ulama pada Ramadan, iblis dan syaitan dirantai; namun kita (termasuk sayalah tu) masih teruk perangai dan sikapnya. Mengapa ya? Menurut ulama lagi itulah pedoman bagi menilai diri kita sendiri; itulah diri kita sebenar yang masih tak baik, masih banyak perkara yang perlu dibaiki. Persoalannya sampai bila? Ulama menjawab...sampai kita mati!

Demikianlah kita wajib mengkoreksi diri sepanjang masa, sering benar kita kecundang dalam kehidupan ini. Baru-baru ini saya ke sebuah bank. Sebaik keluar bank, saya 'diterjah' seorang pemuda berketayap yang membuka 'meja bisnesnya' di sisi bank. Dia memberi salam dan mengesyorkan saya 'menempa' (membeli) satu naskhah al-Quran dengan harga RM50 untuk diinfakkan di masjid. 

Saya bersetuju dan selepas urusan itu selesai dia memujuk saya membeli satu set koleksi lima buku agama seorang tokoh pemikir Islam termasyur dengan harga istimewa RM450 sedangkan harga ditulis di buku lebih RM790. Saya tidak tertarik.Namun si penjual pandai memujuk. Akhirnya saya bersetuju membeli sedangkan di poket saya hanya ada RM150.

Punyalah pandai si penjual, akhirnya saya ke bank lain yang jauhnya lebih kurang dua kilometer kerana di bank pertama kad saya tidak boleh digunakan. Di bank itu saya menemui seorang sahabat lama, jadi kami berborak lama. Lebih satu jam. Ketika berbual, si penjual menelefon saya, bertanya mengapa saya begitu lama di bank.

Saya kembali ke bank pertama dan menyelesaikan urusan pembelian. Balik rumah, saya cari sebuah buku tokoh pemikir termasyhur yang saya teringat pernah saya beli. Terkejut besar dan sungguh terkilan saya kerana koleksi buku yang beli dengan harga RM450 itu isinya 'sebijik sama' dengan buku yang sudah lama saya beli itu. Buku lama itu berharga RM40 sahaja!

Koleksi buku yang baru saya beli itu ada dinyatakan cetakan pertamanya pada 2009 dan sudah sampai ke cetakan kelapan pada tahun ini (2015) sedangkan buku yang berharga RM40 itu tercatat di salah satu muka awalnya dicetak pada 2003. Jadi ada yang 'tak kena' dalam hal ini, ya siapa tiru siapa? Subhanallah dalam hal agama pun ada orang sanggup ambil kesempatan.

Serta merta 'saya naik berang'. 'Mendidih' hati saya. Mahu saya kembali ke tempat tadi dan 'menyerang' penjual buku tadi. Ini tak boleh jadi ni - bisik hati saya. Ya, iblis dan syaitan sudah diikat, tetapi macam mana saya naik darah begitu? Itulah sebenarnya diri saya...panas darah, panas baran, 'kedekut' (kerana sudah hilang banyak wang), tidak dapat menerima takdir dan pelbagai sikap negatif lain.

Hati saya 'panas' tetapi syukurlah Ramadan 'berjaya' menyekat saya daripada bertindak 'jahat dan bodoh'. Selepas merenung-renung diri, saya sedar itu 'ujian Ramadan' saya. Sebahagian daripada perangai dan sikap jahat saya terserlah sudah. 'Ya, itulah kau sebenarnya wahai LanH; kau yang panas baran, tidak sabar, tidak tahan diuji...dan terlalu sayangkan harta benda termasuklah wang, sekarang wang engkau sudah melayang...Kerana kau selalu fikir pasal dunia, sekarang dunia sudah tipu kau...demikian antara gerak hati saya. Akhirnya saya matikan saja gelojak hati saya, halalkan saja, beri kemaafan kepada budak penjual itu, anggaplah ia sebagai sedekah...insya-Allah, Allah akan memberikan yang lebih baik kepada kamu!

Ramadan yang penuh barakah, jaminan pengampunan dan pembebasan daripada api neraka itu sudah berada di pertengahan jalan. Sebelum Ramadan ini berakhir, sebagai panduan untuk saya dan pembaca, amat-amati tazkirah seorang ustaz di Balai Islam iaitu sebuah surau yang kerap saya kunjungi ketiga bertugas di Harakah dulu.. Kata ustaz itu, jika keseronokan atau keasyikan Ramadan sudah menguasai jiwa barulah puasa kita membawa erti. Jika tidak, dikhuatiri puasa kita hanyalah sekadar menahan diri daripada makan dan minum atau lebih tinggi sedikit iaitu menahan anggota diri daripada perkara-perkara bukan hak. 

Bagaimana mahu mendatangkan keasyikan Ramadan? Ustaz itu mengkiaskan tingkah laku seorang peminat bola sepak, katakan penyokong tegar Perak. Penyokong ini bekerja di Kuala Lumpur, tetapi kerana fanatiknya kepada pasukan Perak, di mana saja ada perlawanan membabitkan pasukan ini , akan dihadirinya. Jika pasukan Yob ditakdirkan bermain di Pulau Pinang, peminat tegar ini akan melakukan apa saja supaya dia dapat ke sana. 

Kalau perlu menipu untuk mendapat cuti, dia akan lakukan. Kalau tiada kenderaan, yang ada cuma sebuah motosikal Cup, dia sanggup menunggang dari KL ke Ipoh atau Pulau Pinang. Panas, hujan malah sakit, tidak dipedulikannya. Yang penting dia mesti menyaksikan pemain Yob beraksi. Cintanya kepada pasukan Yob sudah menjadikan dia begitu. Dia sudah asyik dengan dunia bola dan Yobnya. 

Bagaimana mahu asyik dengan Ramadan? Ini soalan sukar dijawab. Ustaz itu berkata, orang yang sudah asyik mahsyuk dengan Ramadan, tidak peduli apa lagi. Kuih raya ke, baju raya ke, duit raya ke, cuti raya ke, semuanya tidak ada dalam kamus mereka. Sebaliknya mereka cukup cemas dengan ibadat dan penghambaan terhadap Yang Maha Kuasa kerana Ramadan semakin hari semakin menuju penghabisan! Dia juga cemas sama ada dia mendapat Lailatuqadar yang jika beribadat padanya akan mendapat ganjaran lebih 1,000 bulan (83 tahun empat bulan). Ya, mana nak cari bulan lain yang 'secantik' Ramadan; jadi 'rebutlah' Ramadan ini sebelum ia berlalu pergi...