Monday, December 8, 2014

Tidak tunai janji antara ciri munafik...

DENGAN nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang; selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. 

Renungan

"Tidak ada sesuatu pun haiwan melata di muka bumi ini melainkan rezekinya di tangan Allah." (Maksud ayat 6 Surah Hud)


Bersyukur ke hadrat Allah SWT kita masih dipanjangkan usia, dapatlah kita memuzakarahkan isu semasa; kali ini kita ingin menyentuh soal tidak menunai janji atau lebih keras lagi berbohong sebagai salah satu petanda munafiknya seseorang.

Kita sangat bimbang kerana soal tidak memenuhi janji ini sudah bersarang di kalangan ramai pemimpin hatta di kalangan pemimpin tertinggi negara. Terpulanglah kepada rakyat untuk menghakiminya tetapi dengan berat hati kita memaklumkan bahawa kita kurang senang dengan beberapa perkembangan politik tanah air seperti pengekalan Akta Hasutan sedangkan ia sudah dijanjikan untuk dihapuskan sebelum itu.

Apa yang kita bimbang pembohongan sudah berleluasa dalam masyarakat. Jika pemimpin pembohong atau tidak tunai janji, rakyat pun pembohong, natijahnya apa hendak jadi dengan masyarakat dan negara kita? Sebuah kajian di Barat menunjukkan setiap orang secara puratanya, berbohong sekali setiap lapan minit atau 200 kali sehari.

Satu kajian ke atas 200 orang yang dipasang dengan mikrofon di Southern California University, mendapati pembohong paling besar adalah mereka yang paling banyak melakukan hubungan sosial atau yang terpaksa membuat tuntutan terhadap orang lain, termasuk di kalangan pemimpin.

Pemimpin pembohong amat bahaya. Mereka yang kaki 'auta' dan kaki kelentong ini cakapnya berdegar-degar. Janji sana janji sini. Misalnya, minta rakyat berjimat cermatlah selepas kenaikan harga minyak, tetapi diri sendiri dan anak bini kaki joli, boros - menghabiskan harta negara. 

Minta rakyat beramanahlah, sedangkan mereka khianat, melarikan wang berkarung-karung ke luar negara. Minta rakyat cintakan bahasa kebangsaanlah, sedangkan mereka menghancurkannya, menjayakan sesuatu projek untuk mengisi kantung sendiri dan kroni-kroni. 

Jika kita merujuk kepada dunia Barat (masyarakat suka berkiblatkan Barat bagi membicarakan hal ketamadunan seperti demokrasi), pembohongan adalah sesuatu yang tidak dapat dimaafkan. Dulu bekas Perdana Menteri Britain, Tony Blair dihadapkan ke sebuah lembaga penyiasat untuk di'grill' (ditanya secara terperinci) mengenai pembabitkan askar Britain ke Iraq berdasarkan laporan perisikan negara kononnya Presiden Iraq ketika itu, Saddam Hussein mempunyai senjata pemusnah secara besar-besaran.

Jika Barat mementingan kebenaran dan tidak dapat menerima sama sekali pembohongan terutama pemimpin pembohong atau tidak menepati janji, bagaimana diri kita yang mengaku Islam? 

Pemimpin tulen boleh dilihat daripada seiringnya cakap dan perbuatannya. Jika sudah menjanjikan sesuatu, dia tunaikannya. Jika dia mengesyorkan rakyat hidup sederhana, dia pun hidup secara sederhana. Tidak bolehlah seorang pemimpin meminta rakyat mengikat perut bagi menghadapi zaman inflasi sedangkan dia boros menghamburkan harta negara.

Amalan munafik pemimpin menjerumuskan negara ke lembah kehancuran. Apa yang ditonjolkan oleh pemimpin, menyerlahkan sikap munafik (seperti tidak menepati janji, bercakap bohong dan pecah amanah) akan menjadi ikutan rakyat negara ini. Apabila pemimpin zalim, rakyat pun zalim; apabila pemimpin berbohong rakyat pun jadi pembohong; dan apabila pemimpin pecah amanah dengan mengamalkan rasuah, rakyat pun terikut sama. 

Nabi Muhammad s.a.w. memandang serius pembohongan sebagai mana sebuah hadisnya sebagaimana dinukilan Abu Isa At-Tirmidzi (Imam Tirmidzi) yang bermaksud: “Diriwayatkan daripada seorang sahabat bagi Nabi s.a.w., namanya Abdullah bin Umar r.a., katanya: Telah aku dengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, bersabda ia: Bahawasanya orang yang menyalahi janji itu didirikan baginya bendera pada hari kiamat di punggungnya.”

Maka bendera itu diangkat tinggi atas kadar menyalahi janjinya kerana memasyhur kepada alim akan tabiatnya di dunia. Maka yang lebih besar bendera ialah bendera raja yang menyalahi janji dan diberitahu pada sekalian bendera itu dengan kata: “Inilah penyalahi janji si anu.” Kata Abu Isa hadis ini hasan shahih.

Menyalahi janji itu haram, istimewa pula daripada orang yang mempunyai pemerintahan kerana menyalahi janjinya membawa kepada mudarat melampau kepada makhluk yang banyak. Dikhuatiri dia akan dihumbankan ke neraka. Nauzubillah.

Friday, December 5, 2014

A deaf ear to the Muslim minorities cry for help...

***
In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful; blessings and peace be upon Prophet Muhammad s.a.w.

Reflection

The Declining Day (Al-'Asr)
1. By the declining day,
2. Lo! Man is in a state of loss,
3. Save those who believe and do good works, and exhort 
one another to truth and exhort one another to endurance.
***

MYANMAR policy’s message to Muslims: Get out. I read this headline of foreign wire report with disgust...Why? It was because this alarming situation was never being reported by our press at a time when Asean leaders met for their summit in the country (Naypyitaw, new capital city of Myanmar) recently.

Perhaps issues pertaining to the Muslims were never discussed at all at the summit. The foreign report noted that the Myanmar (previously Burma) government has given the estimated one million Rohingya people in Rakhine, a coastal region of the country a dispiriting choice: Prove your family has lived here for more than 60 years and qualify for second-class citizenship, or be placed in camps and face deportation.

The policy, accompanied by a wave of decrees and legislation, has made life for the Rohingya, a long-persecuted Muslim minority, ever more desperate, spurring the biggest flow of Rohingya refugees since a major exodus two years ago.

In the last three weeks alone, 14,500 Rohingya have sailed from the beaches of Rakhine State to Thailand, with the ultimate goal of reaching Malaysia, according to the Arakan Project, a group that monitors Rohingya refugees.

As Muslims all over the world were celebrating the new Hegira year of 1436, Muslim minorities such as the Rohingya, the Kashmiris, the Uighurs were prosecuted and were 'boot' out of their homelands. The question is are Muslims concerned about the unfortunate fate of their brothers in Islam?

The deportation of the Rohingya people should put shame to regional organization such as Asean and globally the Organization of Islamic Cooperation (OIC) and of course the United Nations (UN) which was seen 'all quiet' regarding the welfare of the Muslims.

It was estimated that nowadays there are tens thousand of the Rohingya people in Malaysia, yet this issue is not addressed accordingly by our leaders and at international fronts.The UN refugee agency says about 28,000 Rohingyas are registered as refugees in Malaysia, but groups representing them say the real number of Burma Muslim immigrants is much higher and has surged because of the violence. 

Alas, Asean leaders had met in Myanmar, but the issues of the Rohingya people 'were swept under the carpet'. And Malaysia as a senior member of Asean with its leaders kept on 'boasting' that it is an example and champion among Islamic countries kept on silence on the issue.

Based on previous international development, it was a well known fact the UN only took urgent action to resolved what they claimed to be violence in a Muslim country but keep 'cool' on prosecution on the Muslim minorities.

The crisis in Dafur, Sudan; East Timor (previously a part of Indonesia), Iraq; Afghanistan and Iran were examples 'on how efficient' the UN was but why the poor response towards the genocide of the Muslim minorities such as in Rakhine (Myanmar), Kashmir (India), Xinjiang (China), Chechnya (Russia), Pattani (Thailand) and Mindanao (Philippines)?

Regarding the issue of the Rohingya, why the world is silent when the junta regime in Yangon threatened the Muslim to prove that their family has lived there for more than 60 years and qualify for second-class citizenship, or be placed in camps and face deportation.

History recorded that Myanmar or Burma Muslims had a tract record of hundreds of years in the counrty. The first Muslims arrived in Burma's Ayeyarwady (Irrawaddy) River delta, on the Tanintharyi coast in Rakhine in the 9th century, prior to the establishment of the first Burmese empire in 1055 AD by King Anawrahta of Bagan. 

The early Muslim settlements and propagation of Islam were documented by Arab, Persian, European, and Chinese travelers of the 9th century.

Burma Muslims are the descendants of Muslim peoples who settled and intermarried with the local Burmese ethnic groups. They arrived in Burma as traders or settlers, military personnel and prisoners of war, refugees, and as victims of slavery. However, many early Muslims also held positions of status as royal advisers, royal administrators, port authorities, mayors, and traditional medicine men. 

Myanmar which is often associated with the military junta. From 1962 to 2011, the country was ruled by the military junta that suppressed almost all dissent and wielded absolute power in the face of international condemnation and sanctions. The generals who ran the country stood accused of gross human rights abuses, including the forcible relocation of civilians and the widespread use of forced labour, including children. 

Not surprisingly during the just concluded Asean summit, the leaders were silent on the Rohingya issue. In front of the junta leaders of President Thein Sein, no words about the Rohingya were spoken; not even from the President Barack Obama who came for the US-Asean summit.

Obama had praised Thein Sein regarding Myanmar tremendous job chairing Asean this year and has shown solid leadership on issues of critical importance to the entire region but was silent on the persecution of Muslims. 

But before the summit, the President did call President Thein Sein urging him to address the tensions and humanitarian situation in Rakhine State. He asked the Myanmar leader to revise the anti-Rohingya policies, specifically the resettlement plan. Myanmar must “support the civil and political rights of the Rohingya population,” he said.

If superpowers and rich countries even the Muslims nations had pay little or no interest on the Rohingya issue, as individual Muslims have we a thought for our brothers' plight? We are helpless but at  least we could have 'du'a' (pray) to Allah SWT (The Greatest) for their safety in their homeland and abroad

Tuesday, December 2, 2014

Beban tahun baharu...


Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang, selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w.

Renungan

"Hadis riwayat Abu Hazim, daripada Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Muslim, bermaksud: "Tidak akan hancur dunia ini (kiamat) hingga ada seorang laki-laki yang melewati kuburan lalu ia berguling-guling di atasnya seraya berkata, 'alangkah baiknya sekiranya aku berada di tempat penghuni kubur ini.' Hal ini bukan kerana faktor agama tetapi kerana adanya musibah." 


TAHUN 2014 tidak lama lagi akan melabuhkan tirainya, kini jendela 2015 hampir terbuka. Sesuai dengan tahun baharu, tentulah ramai yang bersemangat baharu. Kebanyakan daripada kita berharap melalui tahun baharu dari sudut positif.

Walaupun demikian, banyak daripada peristiwa yang dialami menjelang tahun baharu menunjukkan sesuatu yang negatif. Yalah, harga petrol sudah naik (pemerintah pula mengumumkan akan menghapuskan subsidi minyak) manakala cukai barangan dan perkhidmatan (GST) akan bermula 1 April 2015.

Satu perkara yang kerap dikaitkan dengan tahun baharu ialah permulaan sesi persekolahan. Berhubung perkara inilah banyak ibu bapa yang 'pening-pening lalat' bagi memenuhi keperluan anak-anak. 

Perbelanjaan untuk menyekolahan anak-anak pada zaman ini bukannya murah. Sekarang tidak lagi sesuai untuk berkata: "Cikgu saya serahkan anak saya ini pada cikgu, pandai-pandailah cikgu buat apa-apa yang baik ke atasnya." 

Sekarang 'penyerahan' dilakukan dengan wang ringgit. Sekalipun pihak berkuasa kerap menguar-uarkan yuran persekolahan sudah dimansuhkan hakikatnya banyak wang perlu dikeluarkan.

Sekalipun Menteri Pelajaran memberi jaminan yuran PIBG boleh dibayar pada pertengahan tahun, pelbagai pihak tidak meyakininya. Untuk yuran seorang anak saja sudah menelan belanja berpuluh-puluh ringgit. Bayaran itu termasuklah pelbagai yuran seperti yuran komputer, yuran padang, yuran MSSM, yuran PIBG, yuran perpustakaan dan yuran kertas perperiksaan. 

Bagi yang pertama kali menghantar anak ke sekolah, jangan terperanjat jika melihat pada 'book list' kanak-kanak itu dinyatakan yuran PIBG adalah sebanyak RM50 atau RM100 manakala yuran komputer adalah RM20 atau RM50. 

Jika seorang anak perlu membayar RM50 untuk yuran PIBG, bayangkan berapa banyak yang perlu dibayar jika seseorang itu ada lima orang anak. Fikir-fikirkanlah wang sebanyak RM250 diperlukan untuk membayar yuran PIBG saja. 

Seseorang anak yang bersekolah rendah bukan saja menghadiri sesi pagi tetapi juga sesi petang (sekolah agama). Yuran untuk sekolah agama lain pula daripada sekolah pagi. Demikian juga pakaiannya, begnya dan juga bukunya. 

Demikianlah betapa beratnya bebanan ibu bapa hari ini. Jika untuk seorang anak, terpaksa dibelanjakan RM300, hitunglah wang yang perlu disediakan untuk menyekolahkan lima orang anak, atau pun lapan orang anak. Jumlahnya tentulah membabitkan ribuan. 

Ditambah dengan perkhabaran tambang bas sekolah yang akan dinaikkan, tentulah ibu bapa semakin pening. Dengan belanja harian (duit poket) anak-anak yang juga perlu dinaikkan sejajar dengan peningkatan usia mereka, tentulah ibu bapa semakin terpinar-pinar biji mata mereka. 

Tahniah kepada anak-anak yang mendapat 5A dalam Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) baru-baru ini. Insya-Allah anak-anak akan masuk sekolah berasrama penuh. Namun jumlah yuran sekolah ini 'senang-senang saja' boleh mencapai RM1,000 seorang! Jadi mak bapak, bersedialah!

Selepas termenung memikirkan belanja anak-anak, ibu bapa boleh merenung pula perbelanjaan yang membabitkan diri mereka pula. Jika yang terpaksa menggunakan lebuh raya, kadar tol lebuh raya mungkin dinaikkan. Demikian juga tambang bas.

Bagi yang menaiki pengangkutan awam lain, dengar khabar tambangnya juga akan dinaikkan. Demikian juga dengan tambang bas dan teksi. Semuanya mahu dinaikkan sebab awal Jun lalu harga minyak dinaikkan terlalu tinggi sekalipun sudah turun sekarang ini. 

Tidak cukup dengan perkhabaran itu, tarif kemudahan awam juga dikatakan akan dinaikkan. Jika 'semua' naik, tentulah sewa rumah, sewa kedai, sewa pejabat dan 'segala' macam sewa juga akan naik. 

Demikianlah betapa rakyat begitu tertekan dewasa ini. Malangnya mereka tidak bersuara. Mereka adalah golongan majoriti, kata orang putih 'the silent majority'. 'The silent majority' inilah yang perlu disuntik semangat mereka untuk bangun menyuarakan ketidakpuasaan hati mereka terhadap pembahagian kekayaan negara yang tidak adil. 

Jika negara (seperti Petronas) dikatakan mencatat keuntungan berbilion-bilion ringgit, kenapa tidak salurkan wang itu untuk membayar 'yuran komputer' setiap murid di seluruh tanah air. 

Kenapa wang keuntungan berbilion-bilion ringgit firma berkepentingan kerajaan tidak boleh disalurkan untuk membayar yuran perpustakaan untuk semua murid. 

Demikian juga kenapa kerajaan tidak boleh membayar yuran sukan dan yuran padang anak-anak sedangkan kerap dihebohkan negara mahu melahirkan atlit berwibawa? 

Pada tahun baru, diharap-harapkan rakyat tidak lagi digula-gulakan dengan cerita keuntungan besar (berbilion-bilion ringgit) syarikat milik kerajaan melalui media massa tetapi hakikatnya kebanyakannya terutama 'bapa-bapa' terpaksa mengikat perut untuk menunaikan tanggungjawab asas seperti menyekolahkan anak-anak.